Diriwayatkan, bahwa Allah Ta’ala hendak menciptakan langit dan bumi, Dia menciptakan suatu materi hijau yang berkali-kali lipat langit dan bumi. Kemudian Dia pandang air itu, maka bergolaklah ia dan muncul daripadanya buih, asap dan uap, dan air itu bergetar karena takut kepada Allah. Oleh karenanya, air itu senantiasa bergetar sampai hari kiamat. Dari asap tersebut, Allah menciptakan langit, dan dari buih itu Dia menciptakan bumi. Selanjutnya, Allah mengutus seorang malaikat dari bawah ‘Arsy. Maka menukiklah malaikat itu ke bumi sehingga masuk ke bawah tujuh bumi,
lalu diletakkan bumi itu di atas pundaknya, sedang salah satu tangannya berada di timur dan yang lain berada di barat, keduanya terentang menggenggam bumi yang tujuh sehingga distabilkannya benar-benar. Namun, tidak ada tempat berpijak bagi kedua kakinya. Maka Allah pun menurunkan dari Firdaus seekor lembu yang mempunyai tujuh puluh ribu tanduk dan empat puluh ribu kaki, sedang tempat berpijak kaki malaikat ini Dia letakkan di atas punuknya, sehingga kedua kaki malaikat itu mantap. Maka Allah menurunkan intan hijau dari tingkat tertinggi dalam surga, yang tebalnya sejauh perjalanan lima ratu tahun. Intan itu Dia letakkan antara punuk lembu itu sampai ekornya, maka kedua kaki malaikat itupun mantaplah berpijak pada intan itu, sedang tanduk-tanduk lembu itu keluar dari batas-batas wilayah bumi. Akan tetapi, lembu itu berada di laut. Pada setiap harinya dia bernafas dua kali. Apabila dia menghembus nafas, maka laut pun pasang, sedang bila ia menarik nafasnya maka laut pun surut kembali. Namun, kaki lembu tersebut tidak mempunyai tempat berpijak. Maka Allah menciptakan sebuah batu karang setebal tujuh kali langit dan bumi. Di sanalah kaki-kaki lembu itu berpijak. Dan batu karang itu pun tidak mempunyai tempat tinggal, maka Allah menciptakan Nun, yaitu seekor ikan besar bernama Nun, sedang panggilannya Yalhub, dan nama kebesarannya Yahmut. Allah meletakkan batu karang itu di atas punggung Nun, sedang seluruh tubuhnya kosong. Ikan itu di atas laut. Dan laut itu di atas punggung angin, sedang angin itu terletak pada kekuasaan Allah.
Ka’bul Akhbar berkata: “Sesungguhnya iblis pernah masuk dalam ikan itu, yang menanggung dia atas punggungnya bumi seluruhnya, pohon-pohon, binatang-binatang dan lain-lainnya, lalu berkata kepadanya: ‘Lemparkanlah dari punggungmu bebang-beban itu seluruhnya’.”
Kata Ka’ab: “Ikan itu hendak melakukan perintah Iblis itu, namun Allah mengirim seekor binatang. Binatang itu masuk ke dalam hidung ikan dan sampailah ke otaknya. Oleh karenanya, ikan itu menjerit kepada Allah, lalu Allah mengizinkan binatang itu, maka ia pun keluar.”
Ka’ab mengatakan, sesungguhnya ikan itu memperhatikan benar-benar kepada binatang tersebut, sedang binatang itu pun memperhatikannya. Bila ikan itu hendak melakukan sesuatu dari hal tersebut di atas, maka binatang itu pun masuk kembali seperti tadi. Dan ikan inilah yang dijadikan sumpah oleh Allah Ta’ala seraya firman-Nya:
“Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis.”
Benarlah Allah Yang Maha Agung. (Tafsir Tsa’labi, Rahimahullahu Ta’ala). Semua ini adalah karena kekuasaan Allah Ta’ala Yang Maha Luhur, Maha Besar lagi Maha Tinggi.
(Hal lain yang masih berkaitan dengan hal ihwal dunia dan akhirat). Dalam sebuah khabar disebutkan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda:
“Barangsiapa pernah menganiaya saudaranya mengenai kehormatan atau harta, maka hendaklah ia meminta kepada orang yang teraniaya itu agar menyerahkan kepadanya, atau menghalalkan untuknya, atau membalas kepadanya sebelum dia dibalas oleh seteru-seterunya pada hari di mana tidak terdapat dinar atau dirham.”
No comments:
Post a Comment